Minggu, 31 Januari 2016

Perkembangan Sosial Komunikasi Pembangunan

Mengenai perkembangan Komunikasi Pembangunan terlebih dahulu kita lihat kegiatan pembangunan nasional secara menyeluruh. Pertama tentunya bermula dari langkah perencanaan. Untuk masukan yang terpenting adalah mencari tahu apa yang dibutuhkan rakyat untuk dibangun? Apakah pasar? Jalanan? Sekolah? Atau pabrik? Untuk menjawab pertanyaan di atas perlu dilakukan serangkaian kegiatan baik yang berupa musyawarah desa, rapat partai politik, atau sidang DPR, hingga pertemuan-pertemuan lain di bidang perencanaan pembangunan. Macam-macam kegiatan tersebut sebenarnya tidak lain merupakan kegiatan komunikasi dengan bahasan: 

· masalah yang akan dihadapi, 
· kebutuhan yang dirasakan, 
· merumuskan rencana, 
· kemudian setelah rencana tersusun, kembali disampaikan kepada berbagai kalangan untuk mendapat tanggapan demi perbaikan dan pemnyempurnaan,
· setelah itu, rencana itu kembali disebarluaskan ke seluruh lapisan masyarakat , sebagai suatu program bersama yang menjadi kesepakatan nasional.

Cara Melakukan Pemasaran Kota

Seperti dijelaskan di atas, pemasaran kota bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan warga kotanya. Berkaitan dengan itu, hubungan antar unsur pemasaran kota dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya—terlihat pada Gambar 1(secara garis besar) dan Gambar 2 (secara rinci). Gambar 1 menunjukkan bahwa agarkota/wilayah lebih menarik bagi investasi maka lingkungan kehidupan dan lingkunganbisnisnya (antara lain: dukungan sarana-prasarana kota) perlu mempunyai daya tarik tinggi.

Untuk melakukan pemasaran wilayah/kota, Hermawan Kartajaya dkk. (2002:178-181) menyarankan tiga langkah strategis, yaitu: (1) menjadi “tuan rumah” yang baik bagi kelompok pasar targetnya, (2) memperlakukan kelompok pasar target secara semestinya, dan (3) membangun “rumah” (wilayah/kota) yang nyaman bagi mereka. Untuk melakukan langkah strategis ketiga tersebut (membangun wilayah/kota), perlu tersedia wahana/ruang, sarana, dan prasarana yang memadai bagi aktifitas kelompok pasar target tersebut. Pemasaran wilayah ini melibatkan tiga pelaku utama secara kohesif, yaitu: masyarakat, kalangan bisnis/usaha, dan Pemerintah. Hermawan Kartajaya dkk. menambahkan bahwa ketiga pelaku ini haruslah dapat terus menerus memperbaiki liveability, investability, dan visitability daerahnya.

Keterkaitan Pemasaran Kota dengan Perencanaan Kota

Obyek perencanaan (keruangan) kota mencakup antara lain: ruang kota, prasarana (infrastruktur) dan fasilitas layanan perkotaan. Berdasar hal ini, terdapat “titik singgung” antara perencanaan kota dan pemasaran kota, yaitu:

1. Pemasaran kota dapat menjadi salah satu alat atau instrumen implementasi kota (antara lain: membantu mewujudkan rencana kota dengan mendorong partisipasi masyarakat dan menarik investor).

2. Agar pemasaran kota dapat berhasil maka perlu perencanaan kota (antara lain: rencana pelestarian karakter wilayah, urban design/redesign, peningkatan prasarana perkotaan/wilayah, dan penyediaan fasilitas umum perkotaan yang berkualitas dan memadai).

Selain adanya titik singgung di atas, menurut Asworth dan Voodg (1990: 23-26) terdapat pula perbedaan proses berfikir, yaitu:

Pengertian Komunikasi Pembangunan

Komunikasi pembangunan adalah, segala upaya dan cara, serta teknik penyampaian gagasan, dan keterampilan-keterampilan pembangunan yang berasal dari pihak yang memprakarsai pembangunan dan ditujukan kepada masyarakat luas, dengan tujuan agar masyarakat memahami, menerima, dan berpartisipasi dalam melaksanakan gagasan-gagasan yang disampaikan.

Pengertian “Pemasaran Kota”

Pengertian pemasaran kota/wilayah/daerah berubah dari masa ke masa. Pada awal 1980an, istilah tersebut diartikan sebagai promosi semua aspek kesejahteraan masyarakat kota atau lebih sempit lagi: pengiklanan kota sebagai suatu keseluruhan (van Gent, 1984 dan Peelen, 1987 dalam Ashworth dan Voogd, 1990: 10). Pengertian lainnya menyebutkan bahwa pemasaran kota merupakan aspek yang tidak terpisahkan daripengelolaan kota atau urban management (Nelissen, 1989 dalam Ashworth dan Voogd, 1990: 10). Pengertian yang berkembang berikutnya mengartikan pemasaran kota sebagai kesadaran untuk menarik investasi swasta dalam mewujudkan impian rencana kota (Pumain, 1989 dalam Ashworth dan Voogd, 1990: 11).

Pemasaran Kota Sebagai Instrumen Implementasi

Pemasaran Kota Sebagai Instrumen Implementasi > Terdapat kritik bahwa banyak rencana kota di Indonesia tidak dapat dilaksanakan dengan baik. Salah satu kemungkinan alasannya adalah karena tidak terdapat perangkat atau instrumen yang “manjur” untuk melaksanakan rencana tersebut. Makalah ini bertujuan untuk membahas peran “pemasaran kota/wilayah” (city/place marketing) dalam memperkuat keterlaksanaan suatu rencana kota di Indonesia. Pada dasarnya pemasaran kota dapat membantu mendorong peran serta masyarakat dan menarik investor untuk ikut meningkatkan kesejahteraan daerah (terutama: pendapatan asli daerah) dalam rangka Otonomi Daerah. Selain itu, karena potensinya untuk mendorong peran serta warga dan investor tersebut, maka pemasaran kota/wilayah diharapkan pula dapat mewujudkan “impian” rencana tata ruang kota/wilayah. Banyak kota di Indonesia yang telah mempunyai rencana yang “baik” belum mampu mewujudkannya, maka dengan menggunakan pemasaran kota sebagai instrumen implementasi, diharapkan lebih terbuka kemungkinan untuk dapat mewujudkan rencana kotanya.

Jumat, 29 Januari 2016

Pengertian JJM KTSP Linier dan Cara Pengisian Data JJM di Dapodik Tahun 2016

Pengertian JJM KTSP Linier dan Cara Pengisian Data JJM di Dapodik - Masalah pada pengisian Jumlah Jam Mengajar (JJM) yang belum sesuai 24 jam, JJM tidak linier pada aplikasi Dapodik atau pun data NUPTK dan PTK menjadi masalah yang membingungkan bagi banyak guru. Bagi guru atau Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) yang telah melakukan pengecekan data guru di data pokok pendidikan (Dapodik) pasti sudah tahu apa itu JJM. 

Pengecekan secara online melalui website P2TK Dikdas ini untuk memastikan data guru yang sudah terkirim valid atau masih ada kesalahan. Data biasanya diinput dan dikirim sendiri oleh operator sekolah masing-masing melalui Aplikasi Pendataan Pendidikan ke server pusat Dapodik secara online. Kebanyakan permasalahan terkait JJM Linier yaitu, saat dicek di P2TK JJM Liniernya 0 (nol), itu bisa terjadi karena guru atau PTK yang bersangkutan belum sertifikasi, sehingga data nomor 17 yaitu Kode Bidang Studi Sertifikasi fatal, dan JJM Linier pun juga akan 0 (nol).

Penyebab lainnya adalah guru tersebut sudah sertifikasi namun mengajar bidang studi yang bukan bidang studi sertifikasinya, misalnya anda mengajar PKn padahal bidang studi sertifikasi anda adalah IPS, maka pada JJM Linier datanya nol atau kosong. Berikut ini akan dikupas lebih mendalam mengenai pengertian JJM pada pengisian data Dapodik.