Minggu, 31 Januari 2016

Keterkaitan Pemasaran Kota dengan Perencanaan Kota

Obyek perencanaan (keruangan) kota mencakup antara lain: ruang kota, prasarana (infrastruktur) dan fasilitas layanan perkotaan. Berdasar hal ini, terdapat “titik singgung” antara perencanaan kota dan pemasaran kota, yaitu:

1. Pemasaran kota dapat menjadi salah satu alat atau instrumen implementasi kota (antara lain: membantu mewujudkan rencana kota dengan mendorong partisipasi masyarakat dan menarik investor).

2. Agar pemasaran kota dapat berhasil maka perlu perencanaan kota (antara lain: rencana pelestarian karakter wilayah, urban design/redesign, peningkatan prasarana perkotaan/wilayah, dan penyediaan fasilitas umum perkotaan yang berkualitas dan memadai).

Selain adanya titik singgung di atas, menurut Asworth dan Voodg (1990: 23-26) terdapat pula perbedaan proses berfikir, yaitu:

1. Perencanaan spatial/fisik (secara komprehensif rasional) lebih berorientasi “supply” (menyediakan dan mengendalikan pembangunan keruangan/fisik), dipikirkan oleh perencana dengan mempertimbangkan potensi dan permasalahan fisik lingkungan binaan. Selain itu, rencana yang dibuat telah mempertimbangkan “demand” atau kebutuhan yang bersifat perkiraan. Sebagai gambaran, misal: rencana kota mengalokasikan lahan untuk kawasan industri (tapi perencanaan kota tidak mencakup upaya agar lahan yang dialokasikan tersebut benar-benar terisi).

2. Di lain pihak, pemasaran kota lebih cenderung berorientasi “demand”, yaitu pengubahan atau pengembangan struktur fasilitas kota dipikirkan dari persepektif pengguna aktual dan potensial layanan perkotaan. Potensi “demand” tersebut diupayakan untuk menjadi kenyataan (aktual). Dengan contoh yang sama, misal: terdapat potensi kebutuhan terhadap kawasan industri, maka disediakan lahan untuk itu yang dilengkapi dengan segala daya tarik yang diperlukan (dengan antara lain: upaya urban design/redesign, peningkatan layanan prasarana kota dan fasilitas umum perkotaan). Setelah itu dilakukan upaya pemasaran (citra, daya tarik, prasarana dan penduduk) agar investor betul-betul mau datang dan berinvestasi.

Sebagai tambahan informasi untuk pemasaran kota yang berorientasi “demand”, Scherrer (2002) melakukan survei “user needs assessment” terhadap para responden (investor, dan lain-lain) yang mencari informasi lewat internet untuk investasi di suatu wilayah. Ternyata responden tertarik pada tiga topik, yaitu:

1. Dapat diperolehnya ukuran, harga dan dedikasi guna lahan, serta ketersediaan prasarana pada lokasi yang secara bisnis potensial.

2. Informasi tentang prosedur administrasi, antara lain: Siapa di pemerintahan kota yang menjadi partner bagi investor? Dalam kurun waktu seberapa lama proyek investasi dapat direalisasikan?

3. Informasi dalam lingkungan pasar regional: Adakah di daerah tersebut perusahaan-perusahaan yang dapat menjadi pengguna jasa/produk atau partner potensial untuk bekerjasama? Proyek urban development yang mana yang sedang dilakukan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar