Minggu, 31 Januari 2016

Cara Melakukan Pemasaran Kota

Seperti dijelaskan di atas, pemasaran kota bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan warga kotanya. Berkaitan dengan itu, hubungan antar unsur pemasaran kota dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya—terlihat pada Gambar 1(secara garis besar) dan Gambar 2 (secara rinci). Gambar 1 menunjukkan bahwa agarkota/wilayah lebih menarik bagi investasi maka lingkungan kehidupan dan lingkunganbisnisnya (antara lain: dukungan sarana-prasarana kota) perlu mempunyai daya tarik tinggi.

Untuk melakukan pemasaran wilayah/kota, Hermawan Kartajaya dkk. (2002:178-181) menyarankan tiga langkah strategis, yaitu: (1) menjadi “tuan rumah” yang baik bagi kelompok pasar targetnya, (2) memperlakukan kelompok pasar target secara semestinya, dan (3) membangun “rumah” (wilayah/kota) yang nyaman bagi mereka. Untuk melakukan langkah strategis ketiga tersebut (membangun wilayah/kota), perlu tersedia wahana/ruang, sarana, dan prasarana yang memadai bagi aktifitas kelompok pasar target tersebut. Pemasaran wilayah ini melibatkan tiga pelaku utama secara kohesif, yaitu: masyarakat, kalangan bisnis/usaha, dan Pemerintah. Hermawan Kartajaya dkk. menambahkan bahwa ketiga pelaku ini haruslah dapat terus menerus memperbaiki liveability, investability, dan visitability daerahnya.

Untuk meningkatkan tiga hal tersebut di atas (liveability, investability, dan visitability), Kotler dkk. (2002: 183) menyarankan untuk menangani empat komponen yang saling terkait, yaitu:

1. Karakter tempat/wilayah: suatu tempat/wilayah memerlukan rencana, rancangan dan upaya pengembangan yang baik yang dapat meningkatkan daya tarik dan kualitas serta nilai estetika yang tinggi.

2. Lingkungan fisik: suatu tempat/wilayah perlu mengembangkan dan memelihara prasarana dasar yang cocok dengan lingkungan alamnya.

3. Ketersediaan layanan: suatu tempat/wilayah harus menyediakan layanan dasar dengan kualitas yang cukup untuk memenuhi kebutuhan bisnis dan publik.

4. Aspek rekreasi dan hiburan: suatu tempat/wilayah memerlukan sekumpulan atraksi/daya-tarik untuk warganya dan untuk pengunjung/turis.

Untuk lingkup perkotaan, komponen-komponen pemasaran kota tersebut di atas mendorong dilakukannya langkah-langkah, antara lain: (a) perancangan kota (urban design), (b) peningkatan prasarana perkotaan, (c) penyediaan layanan dasar (antara lain: perlindungan warga kota dan propertinya, keselamatan masyarakat dan keberlangsungan pendidikan), serta (d) penciptaan dan pengadaan atraksi. Hasil langkah-langkah ini perlu dipasarkan dan menurut Kotler dkk. (2002: 78), terdapat empat strategi umum untuk mendorong warga kota serta menarik pendatang/turis, pengusaha dan investor ke tempat/wilayah ini dengan:

1. Pemasaran citra (image marketing): keunikan dan kebaikan citra; dan seringkali didukung dengan slogan, misal: “Singapore—Lion City”, “Jogja—Never Ending Asia”.

2. Pemasaran atraksi/daya tarik (attraction marketing): antara lain: atraksi/keindahan alam, bangunan dan tempat bersejarah, taman dan lansekap, pusat konvensi dan pameran, dan mal pedestrian.

3. Pemasaran prasarana (infrastructure marketing): prasarana sebagai pendukung daya tarik lingkungan kehidupan dan lingkungan bisnis, antara lain meliputi: jalan raya, kereta api, bandara, serta jaringan telekomunikasi dan teknologi informasi.

4. Pemasaran penduduk (people marketing): antara lain mencakup: keramahan, pahlawan/orang terkenal, tenaga kompeten, kemampuan berwira-usaha, dan komentar (positif) penduduk yang lebih dulu pindah ke tempat yang dipasarkan tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar